Modern technology gives us many things.

Puisi Nyeleneh Gus Ulil Paskah Membuat Heboh Kaum Muslim

Puisi Gus Ulil seperti itulah mesin pencarian yang mudah ditemukan. Puisi yang dibawakan oleh anak berkopyah hitam memiliki logo Nahdlatul Ulama ini membuat banyak kalangan memberikan suara. Entah itu suara yang merdu ataupun suara yang nyinyir. Hal ini sudah biasa terjadi mengingat netizen adalah raja.

Puisi Ulil Absar Abdala yang dibaca Ketika Paskah

Ia yang rebah,
di pangkuan perawan suci,
bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yang lemah,
menghidupkan harapan yang nyaris punah.
Ia yang maha lemah,
jasadnya menanggungkan derita kita.

Ia yang maha lemah,
deritanya menaklukkan raja-raja dunia.
Ia yang jatuh cinta pada pagi,
setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci,
terbalut kain merah kirmizi: Cintailah aku!

Mereka bertengkar
tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.

Saat aku jumawa dengan imanku,
tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu,
terus mengingatkanku:
Bahkan, Ia pun menderita, bersama yang nista.

Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu,
mereka semua guru-guruku,
yang mengajarku tentang keluasan dunia, dan cinta.

Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah,
jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!

Tubuh yang mengucur darah di kayu itu,
bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta,
untuk mereka yang disesatkan dan dinista.

Penderitaan kadang mengajarmu
tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci,
kerap membuatmu merasa paling suci.

Ya, Yesusmu adalah juga Yesusku.
Ia telah menebusku dari iman,
yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista! (*)

Semoga Semua Hidup Berbahagia dalam kasih Tuhan

Semua orang boleh saja berkata-kata tentang puisi ini. Tetapi yang pasti banyak sekali komentar netizen tentang puisi ini. Mari kita lihat seperti apakah puisi yang dibacakan oleh seorang anak kecil berkopyah hitam ini.

Puisi ini dibacakan pada Jumat Agung, yaitu dua hari sebelum hari Paskah. Yang menjadi masalah dan menggegerkan warga NU bukanlah puisi yang dibacakan. Tetapi seorang anak yang memakai kopiah NU.

Sungguh unik memang, karena kopiah yang bertuliskan NU inilah yang membuat orang terkesima. Ada yang berkata harusnya jangan bawa bawa NU.

Puisi yang ditulis Ulil Absar Abdalla ini bukanlah karya baru. Karya yang sudah lama ditulis ini menjadi viral kembali setelah dibacakan di Jumat Agung Paskah kemarin.

Next : Apakah puisi ini melanggar Akidah Islam?

Comments are closed.